Ranpur Buatan Anak Negeri

Ada beberapa macam ranpur yang telah dibuat oleh anak negeri untuk kepentingan TNI dalam menjaga negeri ini

Pesawat SU-30

Pesawat dari keluarga Sukhoi ini pesawat MultiRole buatan Rusia yang melengkapi angkatan peralatan Tempur TNI AU

Senapan Serbu (SS2) V5 Buatan PT Pindad

Senapan SS2 buatan Pindad yang telah mengantarkan Militer Indonesia menjuari kejuaraan Tembak di beberapa Negara

Kapal Trimaran

Kapan Cepat Rudal yang akan di produksi oleh Indonesia di Banyuwangi pada tahap kedua dimana yang tahap pertama kapal tersebut telah terbakar.

Thursday, April 2, 2015

Ribuan Prajurit TNI Gempur Sarang Teroris Poso

Ribuan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dikerahkan untuk menggempur sarang persembunyian kelompok bersenjata di pegunungan Tamanjeka alias Gunung Biru, Poso, Sulawesi Tengah.  Lokasi tersebut diyakini sebagai tempat persembunyian dan kamp pelatihan kelompok teroris. Lokasi itu dibombardir dengan senjata berat dari tiga kekuatan, yakni darat, dari kapal perang di perairan Poso, dan dari udara dengan menggunakan helikopter. Serangkaian aksi tembak-tembakan tersebut merupakan skenario dalam latihan perang yang digelar oleh TNI di Poso, Sulawesi Tengah, Jumat 31 Maret 2015. Kegiatan itu disaksikan langsung oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko bersama sedikitnya 40 petinggi TNI berpangkat jenderal. Sebanyak 11 helikopter, enam kapal perang, dan 10 pesawat Hercules serta empat pesawat tempur jenis F16 dikerahkan untuk menggempur sasaran di Pegunungan Biru, wilayah Poso Pesisir. Usai dibombardir, dalam atraksi pertempuran tersebut, lebih dari lima ratus pasukan penerjun dari Linud 502 Malang langsung diterjunkan melalui pesawat Hercules di atas perkampungan Masani. Ratusan pasukan tersebut akan menyasar ke sasaran penggempuran. Meski hanya sebagai latihan gabungan TNI, namun Pegunungan Biru di Poso, dipilih sebagai lokasi latihan karena dianggap tempat tersebut sebagai sarang berkembangnya paham radikal. Lokasi tersebut diduga kuat sebagai tempat persembunyian dan kamp pelatihan kelompok Santoso alias Abu Wardah dan Daeng Koro. "TNI dan pemerintah tidak akan pernah memberi tempat bagi berkembangannya paham-paham radikal di Indonesia, termasuk ISIS. Untuk itu, Poso yang kita lihat menjadi potensi tempat berkembangnya paham-paham radikal itu maka tidak boleh dibiarkan. Karena itu kita gunakan sebagai salah satu pilihan untuk menentukan daerah latihan PPRC," ujar Jenderal Moeldoko di desa Tabalu, Poso, Sulteng. Latihan gabungan TNI di Pegunungan Biru itu diharapkan dapat memberi rasa aman bagi masyarakat di Poso. Masyarakat bahkan berharap aparat TNI ikut menyelesaikan aksi kelompok bersenjata di Poso, agar masyarakat bisa lebih nyaman dalam menjalani kehidupan. "Yang jelas masyarakat senang nanti kalau umpama dia berhasil untuk menjadikan masyarakat aman. Dengan latihan perang ini juga kita gembira. Kan nanti kita semua juga rasakan kalau upaya mereka berhasil," aku Haji Mahmud Saleh, warga Kampung Sipatuwo, yang diungsikan saat skenario penembakan di Pegunungan Biru dilakukan dalam latihan perang tersebut. 

Sumber: VivaNews

Latihan Debarkasi dan Embarkasi Kolinlamil Masuki Tahap Manlap

Latihan Latihan Embarkasi dan Debarkasi Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tahun 2015 telah memasuki tahap Manuvra Lapangan (Manlap) yang rencananya akan dilaksanakan selama enam hari terhitung 27 Maret hingga 3 April 2015 di Perairan Teluk Jakarta, Senin (30/3/2015). Dalam latihan tahap Manlap yang dipimpin langsung oleh Komandan Satuan Lintas Laut Militer (Dansatlinlamil) Jakarta Kolonel Laut (P) Heri Widodo selaku Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Latihan tersebut mengerahkan semua kapal perang di jajaran Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Jakarta yang berada di Pangkalan. Menurut Dansatlinlamil Jakarta, latihan yang mengusung tema “Melalui Latihan Embarkasi dan Debarkasi Kolinlamil Tahun 2015, Kolinlamil Siap Meningkatkan Profesionalisme dan Kesiapsiagaan Prajurit dan Alutsista dalam rangka Menunjang Tugas Pokok TNI”, ini digelar dengan sasaran yang ingin dicapai yakni terwujudnya kemampuan, kesiapsiagaan, pemahaman dan keterampilan serta profesionalisme prajurit dan pengawak unsur KRI Kolinlamil. Kemampuan itu bergunan nantinya dalam melaksanakan kegiatan embarkasi dan debarkasi baik personel maupun material sehingga terbentuk dan terjalinnya kordinasi dan kerja sama antar personel, Satker dan instansi yang terkait dalam pelaksanaan tugas operasi. Sebelum dilaksanakan latihan Manlap di perairan Teluk Jakarta, kegiatan latihan diawali dengan briefing berupa pembekalan yang diberikan oleh Pangkolinlamil Laksamana Muda TNI Aan Kurnia kepada seluruh peserta latihan di Mako Kolinlamil, dilanjutkan dengan pelaksanaan teori secara klasikal dan latihan kering. Latihan Embarkasi & Debarkasi Angkutan Laut Militer pada tahun 2015 diikuti sebanyak 850 personel, yang terdiri dari 750 pelaku yang melibatkan seluruh unsur/KRI yang berada di jajaran Satlinlamil Jakarta dan Terminal Satlinlamil Jakarta serta Marinir. Sedangkan sebanyak 100 personel merupakan staf latihan dan pendukung yang terdiri dari Mako Denma Kolinlamil, Diskes Kolinlamil dan Satuan Markas Satlinlamil Jakarta.


Sumber; JurnalMaritim

Kapal Komando TNI AD Perkuat Pengamanan Teritorial Aceh

Kapal Motor Cepat Komando (KMCK) Kodam Iskandar Muda melakukan atraksi manuver pada peluncuran di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Selasa (31/3/2015).  Kapal Cepat Komando TNI-AD itu dilengkapi senjata berat, mampu berputar 360 derajat, kemampuan operasi selain di laut dan juga di sungai, rawa dan pantai serta berfungsi juga untuk pendaratan amphibi dalam mendukung tugas Kodam Iskandar Muda untuk pengamanan terotirial Aceh. Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto (kanan) bersama perwira TNI-AD lainnya memecahkan kendi saat peluncuran Kapal Motor Cepat Komando (KMCK) di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Selasa (31/3/2015).   Kapal Cepat Komando TNI-AD itu dilengkapi senjata berat, mampu berputar 360 derajat, kemampuan operasi selain di laut dan juga di sungai, rawa dan pantai serta berfungsi juga untuk pendaratan amphibi dalam mendukung tugas Kodam Iskandar Muda untuk pengamanan terotirial Aceh. Kapal Motor Cepat Komando (KMCK) Kodam Iskandar Muda melakukan atraksi manuver pada peluncuran di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Selasa (31/3/2015).  Kapal Cepat Komando TNI-AD itu dilengkapi senjata berat, mampu berputar 360 derajat, kemampuan operasi selain di laut dan juga di sungai, rawa dan pantai serta berfungsi juga untuk pendaratan amphibi dalam mendukung tugas Kodam Iskandar Muda untuk pengamanan terotirial Aceh.




Sumber: RimaNews

Pasukan TNI Bombardir Gunung Biru Poso

TNI akhirnya menggelar latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di wilayah Kabupaten Poso, Selasa, 31 Maret 2015. Dalam latihan yang melibatkan 3.000 personel gabungan dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara itu, Gunung Biru Tamanjeka di Desa Masani di Kecamatan Poso Pesisir dijadikan sebagai sasaran tembakan dari pesawat udara, helikopter, dan kapal perang. Gunung Biru Tamanjeka menjadi sasaran tembakan yang dilepaskan dari tiga kapal perang, empat pesawat tempur F16, dan empat helikopter. Latihan itu juga diwarnai dengan aksi terjun payung oleh 600 personel dari Yonif Linud 502. Pasukan terjun payung itu mendarat di areal persawahan warga di Desa Sa'atu dan Desa Masani Kecamatan Poso Pesisir. Sebelumnya, 12 pesawat Hercules C130 dikerahkan memuat 600 personel dari Yonif Linud 502 dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko di Poso mengatakan, kegiatan latihan PPRC TNI di Poso tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme anggota TNI agar lebih mengenal medan latihan. Alasan pemilihan Poso sebagai lokasi latihan PPRC 2015 diakui Panglima TNI sebagai bagian dari upaya menekan kelompok teroris di Poso. Menurutnya, pemerintah  tidak memberikan tempat bagi berkembangnya paham paham radikal di Indonesia, termasuk ISIS. Poso dinilai berpotensi menjadi tempat bagi berkembangnya paham-paham radikal. Hal itu tidak boleh dibiarkan sehingga kemudian TNI memilih Poso sebagai tempat pelaksanaan latihan PPRC. Seusai pelaksanaan latihan perang, TNI juga menggelar kegiatan bakti sosial berupa pelayanan kesehatan gratis, pembagian sembako, perbaikan jembatan dan irigasi, dan perbaikan 205 rumah warga


Sumber: SindoNews

TNI-AL dan US Marsoc Latihan di Lampon

Pasukan khusus dari Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) Marinir TNI-AL dan prajurit US Marsoc dari Amerika Serikat mengadakan latihan bersama di Pusat Latihan Tempur (Puslatpor) Marinir Lampon, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Senin (30/3). Dalam latihan bersama bersandi Lantern Iron 15-5524 tersebut, pasukan tempur dua negara itu mempraktikkan kesigapan personel di laut. Pasukan juga beradu tangkas mendayung menggunakan perahu karet ke tengah dan tepi pantai. Komandan Yontaifib 1 Marinir Letkol Marinir Freddy Ardianzah menjelaskan, latihan tersebut merupakan lanjutan dari latihan di Karang Tekok, Situbondo. Latihan bersama itu dimulai sejak 19 Maret lalu. ’’Di Situbondo latihan aspek darat, sekarang aspek laut,’’ katanya. Menurut Freddy, selain pertukaran teknik dan taktik kedua satuan, tujuan terpenting latihan bersama tersebut adalah meningkatkan kerja sama kedua negara. ’’Yang terpenting itu kerja sama kedua negara,’’ tegas dia. Pada latihan yang berlangsung hingga 11 April mendatang tersebut, kedua satuan juga akan melakukan jungle survival di hutan. Latihan itu berlokasi di sekitar Hutan Sukamade. Selain itu, ada latihan dengan menggunakan kendaraan tempur seperti helikopter. ’’Survival di Sukamade dan manuver helikopter,’’ tandasnya. 

Sumber: Jawa Pos

Panglima TNI Imbau Santoso Menyerahkan Diri jika Tidak Ingin Mati

Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengimbau Santoso, gembong teroris di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, untuk menyerah kepada aparat keamanan. TNI tengah menggelar latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dengan kekuatan 3.200 personel di sana. "Nanti kalau bertemu TNI ada dua risikonya, mati atau dia (Santoso) menyerahkan diri," kata Moeldoko, di Kota Palu, Senin (30/3/2015), sesaat sebelum terbang ke Poso untuk membuka latihan perang gabungan TNI. Santoso adalah pemimpin kelompok teroris yang diduga kuat melakukan serangkaian kasus kekerasan di Kabupaten Poso dan beberapa daerah di Provinsi Sulawesi Tengah. Saat ini, terdapat latihan PPRC di Poso dari Divisi II Komando Strategis TNI AD yang diperkuat beberapa unsur dari TNI AL, TNI AU, dan TNI AD. Moeldoko mengatakan, saat ini di Kabupaten Poso terdapat sekelompok sipil kecil dan bersenjata dan tidak boleh dibiarkan. Kelompok yang dimaksud adalah 20-an orang yang saat ini bersembunyi di hutan dan kerap menebar teror kepada aparat dan masyarakat. "Kelompok itu jangan sampai dibiarkan. Kalau dibiarkan, kelompok radikal lain bisa merasa nyaman di Poso dan tumbuh besar," ujarnya. Dia mengatakan, jika kelompok pimpinan Santoso itu dibiarkan, kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS/ISIS) suatu saat bisa bergabung dengan mereka. "Saya tegaskan, tidak ada tempat untuk ISIS di Indonesia, termasuk di Poso," kata Jenderal bintang empat ini. Dia juga kembali menegaskan latihan perang seperti di Poso itu latihan rutin tahunan yang lokasinya bisa di mana saja. "Tapi, kalau ketemu Santoso dan tidak mau menyerah, ya saya tembak," katanya.


Sumber: Kompas

Tim Paska Kopassus Sambangi Pulau Terluar yang Berbatasan dengan Australia

Tim Pasukan Katak (Paska) Kopassus menjalani penjelajahan ke Pulau terluar bagian selatan Indonesia, Pulau Ndana. Tim 2 Paska tersebut sedang melakukan survei pemetaan wilayah bersama Tim Agraria dari Provinsi NTT dan Pemerintah Daerah Rote. "Pulau Ndana adalah pulau terluar bagian selatan berbatasan langsung dengan Australia," ungkap Komandan Satuan-81 Kopassus Kolonel Inf Thevi Zebua meneruskan laporkan Tim Paska, Selasa (31/3/2015). Dari laporan tersebut, diketahui bahwa Pulau Ndana hanya dihuni oleh 10 Anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 744 ditambah dengan 23 personel Marinir dan 2 orang pos Angkatan Laut. Para personel TNI ini pun lantas bahu membahu bekerja bakti membersihkan Pulau Ndana. "Mereka sedang melaksanakan kegiatan penjelajahan bergabung dengan Tim Ekspedisi NKRI di Wilayah Provinsi NTT. Mereka menjelajah pulau-pulau teerluar. Sebagian (pulau) sudah ada penghuninya, tapi kalau menemukan yang baru juga akan dilaporkan," kata Thevi. Ekspedisi NKRI sendiri merupakan lanjutan dari ekspedisi-ekspedisi yang digelar jajaran TNI sejak beberapa tahun lalu. Tahun 2012 bernama Ekspedisi Bukit Barisan yang digelar di wilayah Sumatera, 2013 di Kalimantan dengan nama Ekspedisi Khatulistiwa, kemudian Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi dan Ekspedisi NKRI Koridor Maluku dan Maluku Utara. Lalu pada tahun 2015 adalah Ekspedisi NKRI Kepulauan Nusa Tenggara yang digelar pada 5 Februari-6 Juni 2015. Berbagai kegiatan dilakukan pada Ekspedisi ini. Materi penjelajahan mulai dari penelitian flora dan fauna, geologi, potensi bencana, serta sosial budaya. Para personel yang terlibat dalam ekspedisi juga melakukan kegiatan-kegiatan pengabdiaan masyarakat.

Sumber: Detik.com
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com