Ranpur Buatan Anak Negeri

Ada beberapa macam ranpur yang telah dibuat oleh anak negeri untuk kepentingan TNI dalam menjaga negeri ini

Pesawat SU-30

Pesawat dari keluarga Sukhoi ini pesawat MultiRole buatan Rusia yang melengkapi angkatan peralatan Tempur TNI AU

Senapan Serbu (SS2) V5 Buatan PT Pindad

Senapan SS2 buatan Pindad yang telah mengantarkan Militer Indonesia menjuari kejuaraan Tembak di beberapa Negara

Kapal Trimaran

Kapan Cepat Rudal yang akan di produksi oleh Indonesia di Banyuwangi pada tahap kedua dimana yang tahap pertama kapal tersebut telah terbakar.

Friday, April 3, 2015

TNI akan Buat Komando Gabungan Khusus Antiteror dari 3 Matra

Perkembangan aksi teror belakangan ini membuat TNI semakin meningkatkan persiapan dalam fungsi menyelamatkan negara. KSAL Laksamana Ade Supandi mengungkapkan bahwa TNI kini sedang merencanakan membentuk Komando Gabungan Khusus Antiteror dari 3 matra. "Yang lalu memang ada pembicaraan untuk yang namanya Komando Gabungan khusus antiteror. Ini sedang direncanakan di Mabes TNI sehingga dalam penggunaan kekuatan antiteror TNI, baik itu AD, AL, AU di atas perintah Panglima TNI," ungkap Ade di Markas Marinir, Cilandak, Jaksel, Kamis (2/4/2015). Komando Khusus ini, kata KSAL, dapat mempercepat operasi antiteror yang memerlukan bantuan TNI. Namun pergerakannya harus melihat perkembangan situasi teror itu sendiri, apakah masih dalam ranah kepolisian atau sudah masuk ranah TNI. "Berdasarkan assesment situasi dan kebutuhan untuk mengintegrasikan dalam bentuk Komando gabungan ini adalah untuk mempercepat kalau terjadi kebutuhan mendesak. Jadi tidak terlalu lama manggil-manggil lagi tapi sudah dipersiapkan," kata Ade. "Kita punya Denjaka (Detasemen Jala Mangkara) sebagai pasukan khusus AL, kewajiban saya adalah menyiapkan mereka untuk memiliki kemampuan antiteror. Dalam pelaksanaan kekuatan mereka itu dari Panglima TNI," sambungnya. Mengenai kriteria aksi teror sejauh mana yang perlu melibatkan unsur TNI disebut Ade masih belum terlalu jelas. Pada tugas pokok TNI di UU No 34 tahun 2004 tentang TNI, salah satunya adalah tentang keselamatan negara. Inilah yang masih belum dirinci sehingga dalam melaksanakan tugas antiteror, Polri dan TNI belum mampu bersinergi dengan baik. "Intelijen kita bisa menilai, ini (aksi teror) masih di kepolisian, ini harus tindakan TNI karena di UU No 34 ada. Tugas TNI satu menjaga kedaulatan, integritas wilayah, tiga keselamatan bangsa. Ini yang belum kita elaborasi sebenarnya seperti apa sih tugas pokok TNI dalam rangka menyelamatkan bangsa ini," Ade menjelaskan. Meski begitu, disebut Ade bukan berarti TNI tidak siap dalam menghadapi aksi teror. Walaupun tidak bergerak secara fisik, intelijen TNI terus bekerja dalam kasus-kasus terorisme. "Kegiatan TNI kan tidak berhenti kalau ada kejadian, intelijen kita kan juga jalan dalam hal ini di masa damai sampai dengan kalau terjadinya eskalasi meningkat, intelijen TNI akan tentukan. Melaporkan ke Panglima TNI informasi-informasi perkembangan situasi," tutur Ade. "Tapi diharapkan masyarakat sendiri sebagai filter ya, kedua menjaga keamanan yang kondusif di lingkungan masyarakat," tutupnya. Belum lama ini TNI menggelar latihan gabungan di Gunung Biru, Poso, Sulsel. Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) itu disebut sebagai upaya menunjukkan kekuatan personel TNI kepada kelompok tertentu, sekaligus menangkal gerakan ISIS di Indonesia. Seperti diketahui, Gunung Biru, Poso, kerap dijadikan lokasi pelatihan kelompok teroris Santoso. "Latihan membawa pesan Show of Forces terhadap kelompok tertentu, bahwa tidak ada tempat bagi ISIS di Indonesia serta akan berdampak baik secara nasional maupun internasional," terang Panglima Jenderal Moeldoko seperti tertulis dalam rilisnya.

Sumber: Detik

Evakuasi WNI di Yaman

Dalam Suasana Mencekam, 262 WNI Dievakuasi dari Yaman ke Arab Saudi 

Kedutaan Besar AS di Yaman ditutup setelah situasi
keamanan memburuk di ibukota Sanaa 
Suasana mencekam menyelimuti proses evakuasi 262 warga negara Indonesia dari wilayah Yaman ke Arab Saudi. Evakuasi dilakukan di tengah serangan sekutu Arab Saudi ke Yaman. Sebanyak 6 bus membawa 262 WNI ke luar dari Ibu Kota Yaman Sanaa, (30/3/2015) menuju kota Jizan di Arab saudi melalui Al Hudaidah kemudian Tuwal hingga mencapai Jizan dalam waktu tempuh kurang lebih lima jam. Duta Besar RI untuk Yaman Wajid Fauzi memimpin langsung proses evakuasi. "Suasana sangat mencekam tetapi kami terus menenangkan para wni dan meminta semuanya untuk terus berdoa sepanjang 5 jam perjalanan dari Al Hudaidah," ujar Wajid melalui siaran pers yang diterima wartawan, Kamis (2/4/2015). Evakuasi ini merupakan yang pertama kalinya berhasil dilakukan terhadap WNI setelah dimulainya serangan udara Arab Saudi beserta sekutunya terhadap Yaman pada 25 Maret lalu. Menurut Wajid, rombongan WNI meninggalkan Kota Sanaa karena situasi kemanan yang semakin mengkhawatirkan. Dalam perjalanan menuju Arab Saudi, rombongan sempat bermalam di Hudaidah untuk mempersiapkan skenario evakuasi lebih lanjut. Ia juga menyampaikan bahwa sebelumnya pemerintah berencana mengevakuasi WNI melalui jalur udara dengan pesawat charter. Namun, menurut Wajid, kondisi keamanan udara tidak memungkinkan untuk evakuasi. "Karena kondisi keamanan udara yang mengkhawatirkan akhirnya diputuskan evakuasi melalui jalur darat dengan pengawalan khusus dari Yaman Special Force," ujar dia. Setibanya di perbatasan Arab Saudi, rombongan WNI disambut Wakil Dubes RI untuk Saudi dan Konjen RI Jeddah bersama Tim yang langsung membantu proses imigrasi dan penampungan di Jizan. Selanjutnya, rombongan WNI akan dipulangkan ke Indonesia dari Arab Saudi. "Saat ini kita akan melakukan pendataan ulang untuk menyiapkan tiket pemulangan ke Indonesia", ujar Wakil Dubes Indonesia di Riyadh, Sunarko. Pada1 April 2015, pemerintah telah mengirimkan dua Tim Percepatan Evakuasi WNI dari Yaman dibawah koordinasi Kemenlu. Kedua Tim akan masuk ke Yaman mempercepat evakuasi WNI. Selain mengerahkan personil, pemerintah mengirimkan satu pesawat B-737 400 milik TNI AU untuk melakukan evakuasi WNI dari Yaman. Pesawat tersebut rencananya diberangkatkan ke basis operasinya Bandara Salalah di Oman pada Kamis sore ini.

Panglima TNI Kirimkan Tim ke Yaman Lagi Malam Nanti
Boeing 737 Milik TNI AU
TNI telah mengirimkan Boeing 737 ke Yaman untuk membantu proses evakuasi WNI di lokasi perang tersebut. Menurut Panglima TNI Jenderal Moeldoko, akan ada tim lain yang berangkat malam nanti. "Malam nanti akan memberangkatkan tim kita lagi ke sana," kata Moeldoko di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (2/4/2015). Skema evakuasi dari TNI adalah mengeluarkan WNI dari Yaman melalui udara menuju Arab Saudi. Dari Arab Saudi nanti, para WNI akan pulang ke Tanah Air menggunakan pesawat komersil. "Kita kirim 2 penerbang ke sana untuk kalkulasi situasi dan rencana embarkasi. Kemarin 1 penerbang (Boeing) berisi 16 personel ke sana. Atas dasar informasi lapangan hari ini, kita olah," ujar Moeldoko. "Dari Sanaa digeser ke Arab Saudi. Intinya mengangkut WNI yang ada di tempat tertentu keluar, lalu dibawa pesawat komersil ke Indonesia. Ada yang di seputaran Aden harus diangkut dengan kapal, koordinasi juga dengan pemerintah India. Dari Aden, kapal laut ke Djibouti baru dari situ naik pesawat," tambahnya. Menurut Moeldoko, operasi evakuasi ini akan berlangsung hingga situasi di Yaman dianggap sudah kondusif. Jika belum, maka evakuasi akan terus dilakukan untuk 4.000 WNI yang berada di Yaman. "Jumlahnya kan 4.000 sekian, semua dipengaruhi oleh intensitasnya. Kalau terus meningkat, maka mau tak mau tarik semua (WNI). Tapi kalau menurun, mungkin ada kalkulasi sendiri bagaimana dievakuasi atau tidak," ucap Moeldoko.(vid/fjp)

Skenario Evakuasi WNI di Yaman 
Wamenlu
Pemerintah akan memberangkatkan tim evakuasi WNI yang berada di Yaman. Berikut rencana proses evakuasi WNI yang akan dilakukan pemerintah. Pemerintah mengirimkan dua tim ke Yaman. Tim pertama akan menuju langsung ke Ibu Kota Yaman, Sanaa dan tim kedua akan berangkat dengan pesawat TNI AU Boeing 737 menuju Oman yang berbatasan dengan Yaman, tepatnya di wilayah Salalah. "Saat ini 309 WNI sedang bergerak Al Udaydah ke Zizan yang berada di wilayah Arab Saudi. Rombongan ini dipimpin langsung bapak Dubes," kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Lalu Muhammad Iqbal di kantor Kemenlu, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2015). Meski berbeda tempat kedatangan, namun pada akhirnya kedua tim evakuasi ini akan masuk ke Yaman melalui perbatasan. Menurut Iqbal, hal ini dilakukan karena WNI tersebar di berbagai wilayah di Yaman dan jumlah terbanyak WNI berada di wilayah Timur yaitu Hadramaut dan Al Mahrah. "Saat ini konflik terpusat di Aden dan Sanaa. Tim juga akan memutuskan di lapangan apakah masuk ke Sanaa atau Alhudaidah dan ditentukan setelah masuk. Kita tidak bisa buat skenario fix dari awal," kata Iqbal. Pesawat Boeing 737 yang disiapkan di Airport Salalah dapat mengangkut maksimal 123 orang dengan maksimal penerbangan 3 kali sehari tergantung kondisi penerbangan di Yaman. Namun pesawat ini tidak akan mengangkut WNI langsung ke Indonesia, tapi mengangkut WNI di Yaman ke wilayah-wilayah yang relatif aman lalu kemudian diterbangkan lagi ke Indonesia. Perlu diketahui, tim pertama dipimpin menuju Yaman dipimpin oleh Susapto Anggoro Broto dan tim kedua dipimpim oleh Yusron Ambary. "Tim kedua akan lewat darat ke Al Muqalla. Setekah tiba di Al Muqalla akan dibuat Assesment scenario yang mana akan dibuat. Tim satu tim percepatan evakuasi WNI di Yaman," terangnya. "Salalah dijadikan base pesawat evakuasi AU. Kenapa Oman dan Salalah? Karena Oman relatif aman dan Oman pihak netral," tambahnya. Berdasarkan informasi terakhir, saat ini sudah ada 7 safe house yang menampung WNI di Yaman. Di wilayah Aden ada sekitar 100 WNI dan Al Muqallah berjumlah 145 orang.(fiq/fjp)

Ratusan WNI Dikawal Pasukan Khusus 
Foto: BBC Indonesia
262 WNI berhasil dievakuasi KBRI Sanaa dari wilayah Yaman. Evakuasi dilakukan melalui jalur darat menggunakan 6 bus dengan total perjalanan sekitar 5 jam ke Kota Jizan di Arab Saudi. Evakuasi dipimpin langsung oleh Duta Besar RI di Sanaa, Wajid Fauzi. Jalur perjalanan yang ditempuh adalah Sanaa - Al hudaidah - Tuwal - Jizan. Ini merupakan evakuasi pertama yang berhasil dilakukan pasca dimulainya rangkaian serangan udara yang dilakukan oleh koalisi di bawah pimpinan Arab Saudi pada tanggal 25 Maret lalu. "Suasana sangat mencekam tetapi kami terus menenangkan para WNI dan meminta semuanya untuk terus berdoa sepanjang 5 jam perjalanan dari Al Hudaydah," ujar Wajid, Kamis (2/4/2015). Rombongan meninggalkan Kota Sanaa menuju Kota Al Hudaydah pada tanggal 30 Maret karena situasi keamanan yang semakin mengkhawatirkan di Sanaa. Di Al Hudaydah, rombongan bermalam selama dua malam untuk mempersiapkan skenario evakuasi lebih lanjut. Sebelumnya, rombongan sempat direncanakan untuk dievakuasi melalui jalur udara menggunakan pesawat carter, namun karena kondisi keamanan udara yang mengkhawatirkan akhirnya diputuskan evakuasi melalui jalur darat dengan pengawalan khusus dari Yaman Special Force. Selain WNI, di dalam rombongan juga terdapat 2 orang warga negara Thailand. Kedua WN Thailand tersebut ikut serta dalam rombongan evakuasi WNI atas permintaan Kedutaan Thailand di Sanaa. Di perbatasan Arab Saudi, rombongan disambut Wakil Dubes RI untuk Saudi dan Konjen RI Jeddah bersama tim yang langsung membantu proses imigrasi dan penampungan di Kota Jizan. "Kita sudah lakukan pendekatan jauh-jauh hari kepada Imigrasi Saudi agar para WNI yang dievakuasi dari Yaman dapat diberikan dispensasi visa transit 15 hari", ujar Konjen Indonesia di Jeddah, Dharmakirti. Setelah tiba di wilayah Saudi, seluruh rombongan akan diproses pemulangannya ke Indonesia. "Saat ini kita akan melakukan pendataan ulang untuk menyiapkan tiket pemulangan ke Indonesia", ujar Wakil Dubes Indonesia di Riyadh, Sunarko, yang bersama tim evakuasi yaman sudah berada di Jizan sejak beberapa hari sebelumnya untuk melakukan koordinasi dengan otoritas Saudi. Sementara itu, upaya evakuasi terhadap ribuan WNI masih terus dilakukan dari berbagai kota di Yaman. Saat ini, upaya evakuasi dikendalikan langsung oleh Kemlu berkoordinasi dengan perwakilan Indonesia di Saudi, Oman dan Addis Ababa. "Saat ini kita sedang fokus mengevakuasi sekitar 45 WNI yang masih di Al Hudaydah serta sekitar 100 WNI yang masih terjebak pertempuran di Kota Aden. Semoga hari ini dan besok ada rombongan WNI lain yang bisa kita evakuasi dari yaman dengan berbagai skenario evakuasi yang memungkinkan", ujar Lalu Muhamad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Kemlu. Sementara itu, Menlu Retno Marsudi mengatakan selama masih ada WNI yang membutuhkan, pemerintah akan terus melakukan evakuasi dari Yaman. Namun demikian, ujar Menlu Retno, kondisi di masing-masing titik evakuasi berbeda-beda karena itu semua skenario evakuasi telah disiapkan pemerintah Indonesia, baik melalui darat, laut maupun udara. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada tanggal 1 April pemerintah telah mengirimkan 2 Tim Percepatan Evakuasi WNI dari Yaman di bawah koordinasi Kemlu. Kedua tim akan masuk ke Yaman untuk melakukan intensifikasi evakuasi WNI masing-masing melalui Kota Salalah (kota di Oman yang berbatasan dengan Yaman bagian timur) dan Jizan (kota di Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman bagian barat). Selain mengerahkan personel, pemerintah juga mengirimkan satu pesawat B-737 400 milik TNI AU untuk melakukan evakuasi WNI dari Yaman. Direncanakan pesawat tersebut diberangkat ke basis operasinya bandara Salalah (Oman) sore hari ini pukul 5 sore. 

Dalam 3 Hari, Kloter Pertama Evakuasi Yaman Tiba di Indonesia 
45 WNI yang berada di Hudaidah, Yaman hari ini dievakuasi melalui jalur darat menuju Jizan, Arab Saudi. 309 WNI diperkirakan akan tiba di Indonesia dalam 2-3 hari ke depan. "Terkait perkembangan situasi Yaman dini hari tadi, 267 WNI telah menyeberang ke Jizan di Arab Saudi ini bagian dari 309 WNI," ujar Juru Bicara Kemenlu Armananta Christiawan Nasir di kantor Kemenlu, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Rabu (2/4/2015). "Karena keterbatasan kendaraan ada 45 WNI tertinggal di Hudaidah rencananya pagi ini menuju Jizan," tambahnya. Kemenlu memperkirakan 309 WNI ini kembali diberangkatkan ke Indonesia. Direncanakan, kloter pertama gelombang evakuasi ini akan tiba di Tanah Air dalam 2-3 hari ke depan. Sebelumnya, pemerintah telah mengirimkan dua tim evakuasi ke Yaman. Tim pertama akan menuju langsung ke Ibu Kota Yaman, Sanaa dan tim kedua akan berangkat dengan pesawat TNI AU Boeing 737 menuju Oman yang berbatasan dengan Yaman, tepatnya di wilayah Salalah. "Saat ini 309 WNI sedang bergerak Al Udaydah ke Zizan yang berada di wilayah Arab Saudi. Rombongan ini dipimpin langsung bapak Dubes," kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Lalu Muhammad Iqbal.(fiq/fjp) 

98 WNI yang Ada di Aden Dievakuasi Keluar Yaman via Jalur Laut 
Pemerintah terus berupaya melakukan evakuasi terhadap WNI yang di Yaman. Tim evakuasi telah menyewa kapal untuk mengevakuasi 98 WNI yang berada di Aden. "Ada 98 WNI ada di Aden yang akan kita evakuasi melalui kapal," ujar ujar Juru Bicara Kemenlu Armananta Christiawan Nasir di kantor Kemenlu, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Rabu (2/4/2015). "Saat ini kapal mendekat ke Aden kita angkut ke Djibouti dan dari Djibouti kita terbangkan ke Indonesia," tambahnya. Djibouti adalah sebuah negara yang terletak di Afrika Timur yang berada di sekitar Teluk Aden. Indonesia juga mendapatkan permintaan khusus dari Filipina dan Singapura yang mengikutkan warganya dalam rombongan evakuasi melalui kapal laut. "Ada 10 untuk ikut bersama dengan kapal yang kita sewa yang mengarah ke Djibouti," kata Armananta. 98 WNI yang berada di Aden saat ini berada di sebuah safe house milik tokoh WNI. Kemenlu menegaskan pihaknya mencoba segala upaya untuk mengevakuasi WNI yang berada di Yaman. Kondisi sekitar Sanaa saat ini masih belum stabil.(fiq/fjp)


Sumber: Detik | Kompas

Thursday, April 2, 2015

Sang Pendamping yang (nyaris) Terlupakan

Kedatangan 2 buah jet tempur Rafale memang mengundang decak kekaguman. Kagum akan aksi aerobatik serta tentu saja kagum atas usahanya dalam tender pengadaan pesawat tempur TNI-AU. 

Namun, dibalik decak kagum itu, ada satu hal yang nyaris luput dari hiruk pikuk atraksi jet tempur cantik itu. Yaitu, keberadaan pesawat angkut A-400M, yang pada hari demo itu diparkir terpojok jauh dari panggung utama. Meski diperlakukan demikian, peran A-400M sejatinya sangat vital dalam mendukung penampilan Rafale. Ingin tahu lebih dalam mengeni A-400M? simak tulisan Aryo Nugroho berikut ini.

The European Hope
Penundaan bertahun-tahun tidak menyurutkan langkah konsorsium EADS-Airbus untuk menyelesaikan proyek FLA (Future Large Aircraft). Di dalam proyek ambisius ini, tergantung segala harapan kemandirian militer Eropa.

Jumat, 11 Desember 2009 menjadi hari bersejarah bagi seluruh negara Eropa yang tergabung dalam konsorsium EADS-Airbus. Setelah penundaan yang terjadi berkali-kali, pembengkakan biaya, dan masalah teknis serta non teknis lainnya, pesawat transpor A400M akhirnya lepas landas pukul 09.42 GMT dari Sevilla, Spanyol. 

Disaksikan oleh Raja Spanyol Juan Carlos, raksasa angkut medium Eropa ini lepas landas dengan mulus, dikomandoi oleh pilot Inggris Edward Strongman dan lima kru lainnya, satu kopilot dari Spanyol dan empat teknisi dari Prancis. 

Pesawat berkelir light grey dan berhiaskan tujuh bendera negara launch customernya ini menjalani penerbangan berdurasi 3 jam 47 menit di atas wilayah Extremadura, Selatan Spanyol. Lancarnya penerbangan perdana ini menggembirakan hati para petinggi EADS-Airbus, yang menghadapi rasa ketidaksabaran negara-negara anggotanya akan molornya waktu penyelesaian A400M. 

Bahkan sempat terbetik kabar, Jerman dan Prancis sudah di ambang pintu deal untuk memesan C-130J Hercules yang sudah siap produksi dan harganya lebih murah. Apalagi, status Jerman sebagai tulang punggung angkut berat operasi NATO di Afghanistan mengharuskan mereka untuk mencari pengganti C-160 Transall yang digunakan secara ekstensif. Jadi boleh dibilang, keberhasilan penerbangan ini adalah pembuktian tersendiri, tidak hanya bagi A400M namun juga bagi kemampuan produksi bersama antara negara-negara anggotanya.

Menyasar yang belum disasar
Awalnya dikenal sebagai program FLA, proyek ini lahir atas prakarsa Inggris, Jerman, dan Prancis. Jerman dan Prancis menginginkan penggantian untuk pesawat angkut medium C-160 Transall mereka, namun merasa tidak ada kandidat yang memadai di pasaran. Performa STOL (Short-Takeoff Landing) dan kemampuan mendarat di landasan kasar (unprepared runway) C-160 memang tak tertandingi oleh pesawat lainnya, namun daya angkutnya terbatas. C-130 sendiri punya kapasitas angkut memadai, namun tidak andal di landasan kasar. Padahal Jerman dan terlebih lagi Prancis, punya kepentingan di wilayah tanduk Afrika, yang memiliki infrastruktur pendukung yang minim. Maka pada 1982, Prancis (Aerospatiale), Jerman (MBB), Inggris (BAe), dan Lockheed menandatangani proyek kerja bareng untuk mendesain pesawat angkut pengganti C-130 dan C-160. Belakangan, Lockheed menarik diri dan mengerjakan C-130J, dan posisinya digantikan oleh Spanyol (CASA) dan Italia (Alenia).

A400M menjadi salah satu proyek militer paling ambisius di abad ke-20, dengan sasaran berupa ceruk diantara C-130 Hercules dan C-17 Globemaster III. Alih-alih menggunakan komponen yang sudah teruji di pasaran, seluruh bagian A400M dikembangkan sendiri oleh Airbus. Dengan target meminimalkan bobot bodi sebanyak mungkin agar kapasitas kargonya maksimal, material CFRP (carbon fibre reinforced plastics) diperkenalkan. Sangat kuat, ringan, dan tahan korosi, CFRP dijadikan material untuk sayap belakang, ramp door, dan sayap utama, yang menggendong empat mesin Europrop International TP-400 D6. Tiap mesin menggerakkan delapan bilah propeler buatan pabrikan Ratier-Figeac. 

Yang unik, para desainer A400M mengaplikasikan teknologi down between engines, atau yang dikenal sebagai counter rotation, dimana propeler di tiap mesin berputar ke satu titik temu. Efeknya, efisiensi mesin bisa meningkat 6-16% dibanding mesin dengan bilah yang berputar kearah yang sama, dan yang terpenting, mengurangi dampak fatal dari kegagalan mesin (critical engine). Teknologi ini juga membantu menurunkan luas bidang sayap utama dan sayap ekor horisontal yang diperlukan untuk memberi gaya angkat saat terjadi kegagalan mesin. Efeknya, sayap A400M memang terlihat agak tidak proporsional karena termasuk mini dibanding ukuran badannya yang terhitung besar. 

Beralih ke bodi, fuselage A400M sengaja dibuat gambot, dengan cross section yang melebihi C-130J-10, dan menawarkan volume angkut kargo dua kali lipat dari C-130H atau C-130J-10. Biarpun kapasitas angkut palet standar militernya sama, 7 M463L palet, namun berkat cross section yang lebih lebar, A400M bisa menawarkan fleksibilitas yang lebih besar. Ini akan terasa berguna untuk angkut taktis kendaraan militer seperti IFV/ranpur modern, yang rata-rata memiliki lapisan pelindung tambahan. Sebagai catatan, kendaraan angkut pasukan Stryker milik AS harus dilolosi dulu slat armornya sebelum masuk ke C-130J. Dengan A400M, masalah semacam ini tak akan ditemui. 

Selain kemampuan angkut kargonya, A400M bisa dengan cepat dikonfigurasi ulang menjadi ambulans udara (MedEvac), dengan 66 tandu standar NATO dan akomodasi bagi 25 petugas medik. Untuk operasi linud, tersedia pintu untuk terjun statis (parachutist door). Khusus untuk operasi khusus yang melibatkan terjun free-fall HALO/HAHO, A400M dilengkapi sistem rapid depressurization/pressurization sehingga bisa mengubah ketinggian terbang dengan cepat.

Sementara fitur terbaik terdapat di kokpit. Selain sistem kendali fly-by-wire, teknisi Airbus mencangkokkan full-glass cockpit yang simpel dan nyaman, dimana pilot mengakses seluruh informasi dari 9 layar LCD berukuran 6”. Dengan Flight Management Systems buatan Thales yang diadopsi dari milik A380, sidestick controller khas seluruh pesawat Airbus, sistem kontrol mesin digital FADEC, rasanya pilot militer kini akan semakin dimanjakan. Untuk mendukung pelaksanaan misi militer, tersedia paket MMMS (Military Mission Management Systems) dengan dua komputer misi yang mengendalikan penanganan kargo, menghitung muatan, dan termasuk menghitung variabel angin dan kecepatan pesawat untuk memastikan ketepatan penerjunan kargo (airdrop). MMMS juga mengontrol manajemen bahan bakar dan menghitung jarak operasional dengan gabungan bahan bakar dan beban kargo yang dibawa.

Dirundung masalah
Jika reaksi seorang CEO bisa dijadikan patokan ukuran optimisme akan keberhasilan produk barunya, bisa jadi orang ragu akan masa depan A400M. Bagaimana tidak, CEO Airbus Tom Enders menolak untuk membicarakan masalah pendanaan saat hendak diwawancarai dalam momen bersejarah tersebut. Bahkan sebelum penerbangan ini, Afrika Selatan sudah pula menarik diri sebagai salah satu pembeli ekspor A400M, menyisakan Malaysia sebagai pembeli ekspor tunggal. Ya, A400M memang dirundung masalah ekonomi, geopolitik, dan teknis yang bertubi-tubi.

Dari segi ekonomi, A400M sudah dicap sebagai produk yang merugi. Pangkalnya, adalah sistem set price agreement (SPA) yang dipakai untuk membiayai proyek ini. Alih-alih menghitung seluruh biaya di belakang dan baru menghitung biaya jual berdasar biaya tersebut, metode SPA menghitung di depan berdasar asumsi-asumsi yang tidak pasti. Akibatnya, begitu terjadi penundaan, efeknya langsung berimbas pada pembengkakan biaya (cost overruns). Dari dana yang tadinya dibayarkan sejumlah 20 miliar Euro, Airbus meminta komitmen lagi sejumlah 5-8 miliar Euro. Itupun dengan catatan Airbus sudah menanggung rugi 2,3 miliar Euro untuk 180 pesawat pertama yang dipesan Jerman dan Prancis. 

Masalah bertambah pelik, saat Airbus memperkirakan bahwa A400M operasional pertama baru akan diserahkan ke AU Prancis sebagai launch customer pada akhir 2012, sementara Jerman yang hendak mengambil 60 pesawat dengan konfigurasi terbaik, baru menerimanya paling cepat 2013. Sebenarnya buat Jerman dan Prancis, akan lebih mudah untuk memesan saja C-130J yang sudah siap terbang, apalagi di masa krisis ekonomi dimana anggaran militer sudah pasti dipotong habis-habisan. 

Akan tetapi, ada pula faktor geopolitik yang harus dipertimbangkan. Masalah utama tentu adalah kemandirian militer Eropa, sebagai payung pendukung kesatuan Uni Eropa. Bagi Prancis, mereka tidak mau mengulangi kesalahannya saat melancarkan operasi Leopard di Zaire tahun 1978, dimana mereka harus meminjam C-130 AS. Dan masalah yang paling penting, tentu adalah gejolak sosial yang bisa meletus bila A400M dibatalkan. Dengan memesan A400M, maka proyek ini akan menghidupi ribuan pekerja Airbus, EADS, dan subkontraktor lainnya di Eropa. Dalam krisis ekonomi dunia yang mendera negara-negara maju, masalah ini menjadi isu sensitif, karena tentunya Eropa tidak akan membiarkan devisanya lari ke AS untuk C-130J. Boleh jadi, faktor komitmen inilah yang akan menyelamatkan proyek A400M, melebihi segala keunggulan teknis yang ditawarkannya.

Among The Contenders
Untuk mempermudah pembaca melihat kelas medium-heavylift yang disasar A400M, berikut merupakan perbandingan kemampuan A400M melawan pesawat angkut AS. Kelihatan bahwa A400M mengisi ceruk lowong antara C-130J dan C-17. Namun satu catatan, ketika bahan bakarnya diisi penuh, kapasitas angkut A400M tidak beda jauh dengan C-130J. Untuk negara yang punya armada pengisi bahan bakar diudara (aerial refuelling), bisa jadi pikir-pikir ulang saat mau mengakuisisi A400M yang harganya 4x lebih mahal.




Spesifikasi Teknis
Dimensi (PxLxT) : 45,1x14,7x42,4m
Max. Take-off Weight : 141,000 kg 
Max. Landing Weight : 122,000 kg 
Maximum Payload : 37,000 kg 
Bobot kosong : 70 ton
Mesin : 4x Europrop International TP-400 D6 dengan daya 11.000 shp per buah
Kapasitas bahan bakar : 47 Ton; 58 ton dengan tangki bladder di dalam ruang kargo
Kecepatan Jelajah : 0,68-0,72 Mach
Ketinggian operasional : 37.000 kaki
Jarak jelajah : 6.390km (dengan 20 ton bahan bakar); 6.390km (30 ton bahan bakar); 8.700km (ferry)
Kru : 4 (2 pilot, 1 teknisi, 1 loadmaster)

Harga : $100-166,7 juta

Sumber: ARC

Rosoboronexport : Kami Lakukan yang Terbaik untuk Indonesia

Pameran Indo Defense yang diselenggarakan di Jakarta pada November lalu telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki ketertarikan yang cukup besar terhadap pesawat buatan Rusia, sistem persenjataan Angkatan Laut, kendaran lapis baja, serta sistem pertahanan udara Rusia. Russia Today berbincang dengan Kepala Departemen Regional Rosoboronexport Vladimir Yereshcenko mengenai prospek Rusia di pasar Asia Pasifik dan model senjata terbaru yang ditawarkan oleh industri pertahanan Rusia.

Perluasan Kerja Sama Militer Teknis dengan Indonesia
Kapal selam disel-elektrik dari Proyek 636 masih sangat diminati oleh Angkatan Laut Indonesia. Proyek tersebut terbilang sukses, dikembangkan dengan sangat canggih dan telah memenuhi semua persyaratan modern.

Rosoboronexport berharap, delegasi Indonesia akan mengunjungi kami dalam waktu dekat. Indonesia saat ini sedang menyusun anggaran belanja senjata untuk lima tahun ke depan, dan kami membuka lebar-lebar kesempatan untuk bekerja sama.

Rosoboronexport melakukan hal terbaik yang dapat dilakukan untuk memperkuat posisi Rusia di pasar Indonesia.

Prospek Senjata Rusia di Pasar Asia Pasifik
Saat ini, kawasan Asia Pasifik merupakan pangsa pasar dari hampir separuh jumlah keseluruhan produksi Rosoboronexport. Dengan potensi ekonomi mereka yang terus berkembang, negara-negara di Asia Pasifik semakin tertarik meningkatkan kapabilitas pertahanan mereka.

Tren yang berkembang, saat ini negara di kawasan Asia Pasifik ingin membangun industri pertahanan mereka sendiri dan memanfaatkan program ofset yang ditawarkan oleh negara-negara maju secara optimal. Kami siap untuk memenuhi hal tersebut. Kami sudah sangat berpengalaman dalam membangun perusahaan bersama dan berbagi lisensi, mentransfer teknologi, serta mengimplementasikan beragam proyek unik.

Kami sudah membangun kerja sama dengan sejumlah negara Asia Pasifik. Secara khusus, kami ingin memasuki pasar Filipina dan Brunei, mempererat hubungan kerja sama dengan Thailand, serta mulai berinteraksi dengan Korea Selatan. Negara-negara tersebut selama ini lebih fokus pada produsen senjata dari Barat. Namun, waktu telah mengubah keadaan dan pintu kesempatan kini terbuka lebar bagi kami. Selain itu, kami juga mengembangkan sayap ke Nepal. Kami sudah mengirimkan dua buah helikopter Mi-17 ke negara tersebut. Kami pun hendak memperluas jaringan di Srilanka dan Bangladesh.

Senjata yang Dibutuhkan Asia Pasifik: Pertahanan Udara dan Perlindungan Angkatan Laut
Sistem pertahanan udara Rusia mungkin salah satu bidang yang paling menjanjikan dalam kerja sama militer-teknis dengan Malaysia. Belum ada pembicaraan spesifik mengenai transaksi yang akan dilakukan, namun kami bisa merasakan ketertarikan Malaysia terhadap sistem pertahanan udara Rusia cukup besar, terutama pada sistem Igla-S, Pantsir-S1, dan Buk-M2E.

Kami juga melakukan promosi di pasar Malaysia. Minat terhadap kapal patroli dan sistem kontrol garis pantai yang kami tawarkan terbilang konsisten. Pertahanan garis pantai memang merupakan prioritas bagi Malaysia, terutama terkait masalah bajak laut di Selat Malaka.

Pesawat: Fokus pada Yak-130 dan Be-200
Di luar fakta bahwa Be-200 merupakan pesawat unik dan tak memiliki padanan ataupun pesaing di seluruh dunia, kami masih agak kesulitan mempromosikannya. Padahal, semua negara membutuhkan pesawat semacam ini. Kami terus melakukan promosi di wilayah Asia Pasifik, karena Be-200 cocok bagi mereka, terutama negara-negara yang memiliki perbatasan maritim yang terbentang panjang.

Di saat yang sama, kami juga optimis Yak-130 akan laku di area Asia Pasifik. Kami baru saja menandatangani kontrak pasokan pesawat ini untuk Bangladesh. Selain itu, kami juga terus melanjutkan promosi aktif untuk menjual Yak-130 ke Malaysia, Srilanka, dan Indonesia. (Indonesia.RBTH.com).

Sumber: JKGR

Yang Ditawarkan Rafale ke Indonesia

Sebagai peserta yang tampil paling akhir, Dassault Rafale tampak berupaya keras menyalip di tikungan akhir menjelang garis finish. Dan tidak main-main upaya yang dilakukan Dassault. Meski paling buncit, pabrikan Perancis ini langsung memboyong 2 unit jet tempur Rafale, untuk diujicobakan TNI-AU maupun Kementrian Pertahanan. Dan aksi yang dilakukan Rafale ini, sejujurnya mengundang decak kagum.

Namun, sebagaimana amanat Undang-Undang Industri Pertahanan, dan sekaligus pemanis kontrak, setiap pabrikan menawarkan sejumlah paket teknologi transfer. Dan untuk mencari tahu hal ini, ARCinc pun berkesempatan bertanya langsung kepada Executive Vice President America-Africa-Asia Military Sales dari Dassault Aviation, J.P.H.P Chabriol. Dan pertanyaan pertama tentunya paket transfer teknologi apa yang Dassault tawarkan ke pihak Indonesia.

Jawaban Chabriol cukup lugas. Ia menyatakan Dassault siap memberikan apapun yang Indonesia minta sebagai imbal pembelian Rafale. Mulai dari perawatan, produksi sub sistem hingga perakitan penuh (full assembly) jet tempur Rafale di Indonesia. Chabriol mencontohkan, pada penawaran dengan India, lebih dari 100 unit Rafale akan dibangun di dalam negeri India. "Meski jumlah pembelian Indonesia nantinya tidak sebanyak India, paket full assembly pun bisa saja dilakukan," papar Chabriol.

Selain itu, janji Dassault memberikan transfer teknologi bisa dilakukan lebih mudah lantaran Rafale merupakan jet tempur yang 100% murni buatan Perancis. Artinya tidak diperlukan persetujuan negara ketiga yang memasok subsistem dari Rafale. Bahkan Chabriol juga menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan Industri Pertahanan lain seperti LEN, Pindad dan lain sebagainya.


Permasalahan lain yang kerap mengantui pembelian senjata oleh Indonesia adalah embargo. Untuk hal ini, Chabriol kembali mempertegas bahwa Rafale adalah 100% buatan Perancis. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran mengenai embargo dari negara ketiga sebagai pemasok subsistem. Alutsista buatan Perancis sendiri sudah banyak digunakan militer Indonesia, mulai dari Helikopter, Panser, Meriam, Radar, dan sebagainya tanpa adanya bayang-bayang embargo.

Bagaimana dengan harga Rafale yang dianggap cukup mahal. Sembari tersenyum, Chabriol menyatakan keberatannya membandingkan Rafale dengan jet tempur yang lebih murah. Namun, ia kembali mencontohkan saat tender di India, dimana Rafale dibandingkan dengan Typhoon. "Setelah melalui beragam kalkulasi meliputi biaya operasional, life cycle, perawatan, Rafale justru lebih murah dibanding Typhoon", klaim Chabriol.

Sementara itu, dari sisi Indonesia, ARCinc bertanya langsung kepada PT.DI , yang juga ternyata salah satu pemrakarsa kedatangan Rafale ini. Dirut PT.DI, Budi Santoso, menyatakan yang ia cari adalah kemampuan mengupdate dan mengupgrade pesawat tempur. Menurutnya, pesawat tempur berbeda dengan pesawat angkut, dimana dalam masa operasionalnya selama 20-30 tahun, harus selalu diupdate sehingga bisa memenangkan pertempuran. Namun demikian, pihaknya tetap menyerahkan kepada pemerintah dan pihak terkait mengenai transfer teknologi yang disepakati.

Lalu bagaimana dengan Typhoon? Bukankah PT.DI sebelumnya tampak bekerja sama dengan Konsorsium Eurofighter? "Oh.. itu hanya pancingan, buktinya Rafale mau datang kan", kata Budi Santoso sambil tersenyum.

Sumber: ARC

Prancis Siap Transfer Teknologi Rafale ke Indonesia

Pihak Prancis menegaskan pada Rabu kemarin bahwa mereka bersedia melakukan kerjasama industri dengan Indonesia seandainya Dassault Rafale terpilih sebagai jet tempur yang akan memodernisasi armada TNI AU. 
Duta besar Prancis untuk Indonesia Corinne Breuzé mengatakan bahwa Prancis bersikap terbuka untuk semua kemungkinan kerjasama yang melibatkan pabrikan pesawat Prancis Dassault Aviation dan pabrikan pesawat milik negara PT Dirgantara Indonesia (PT DI).
"Dengan dukungan dari pemerintah Prancis, Dassault terbuka untuk kemungkinan kemitraan dan transfer teknologi," katanya dalam sebuah pernyataan.
Selain transfer teknologi, dia mengatakan bahwa Rafale adalah 100 persen buatan Prancis, sehingga penggunanya memiliki independensi penuh. "Mesinnya dirancang oleh Safran/Snecma, avionik oleh Thales, dan persenjataan oleh MBDA," kata dia.
Breuzé berbicara di sebuah acara untuk memperkenalkan jet tempur Rafale Prancis kepada masyarakat Indonesia, di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur.
Dia mengatakan bahwa keputusan untuk membawa Rafale ke Jakarta dibuat oleh Menteri Pertahanan Prancis dan Angkatan Udara setelah kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu, yang bertemu dengan counterpart-nya dari Prancis Jean-Yves Le Drian pada 10 Maret lalu.
Selama kunjungannya ke Prancis, Ryamizard juga mengunjungi jalur perakitan Rafale di Bordeaux-Merignac.
Dua jet tempur Rafale, terdiri dari Rafale B kursi ganda dan Rafale C kursi tunggal, tiba pada hari Senin di Lanud Halim Perdana Kusuma setelah berakhirnya pameran Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA) 2015 di Malaysia. 
Pada hari Selasa, jet tempur tersebut membuat tiga kali penerbangan bersama pilot TNI AU yang terbang di Rafale B, pilot TNI AU duduk di kursi belakang.
Ada juga tampilan aerobatik tunggal yang dilakukan oleh Capt. Benoit Blanche dari Angkatan Udara Prancis.
Rafale datang sebagai kompetitor telat untuk menggantikan pesawat tempur tua buatan Amerika Serikat F-5E Tiger yang dioperasikan TNI AU.
Jet tempur Prancis ini akan menghadapi persaingan ketat dari kompetitor lainnya, seperti Sukhoi Su-35 dari Rusia, F-16 Block 60 dari Amerika, SAAB JAS-39 Gripen dari Swedia, dan Eurofighter Typhoon, yang merupakan pesawat hasil kolaborasi antara Jerman, Italia, Spanyol dan Inggris.
Disebut-sebut, TNI AU telah beberapa kali menyatakan keinginannya untuk Su-35, yang merupakan iterasi terbaru dari keluarga jet tempur Flanker. Meskipun begitu, keputusan akhir tetap berada di Kementerian Pertahanan.
Sementara itu, wakil presiden eksekutif Dassault Aviation untuk penjualan di Amerika, Afrika, dan Aisa  JPHP Chabriol mengatakan bahwa contoh terbaik dari kesungguhan Prancis untuk mentransfer teknologi adalah India, yang memilih Rafale.
Dia mengatakan bahwa dari pesanan 126 unit, 18 unit akan diproduksi di Prancis dan sisanya akan diproduksi sendiri oleh pabrik pesawat India melalui transfer teknologi progresif.
Chabriol juga mengatakan bahwa otoritas Prancis serta industri Prancis tidak membatasi transfer teknologi Rafale ke luar negeri.
"Satu-satunya kendalanya adalah aspek anggaran, akal sehat, dan efisiensi biaya," kata dia.
Dia mengatakan bahwa Dassault dan seluruh asosiasi perusahaan Prancis cukup terbuka untuk berdiskusi dengan Indonesia untuk membuat program yang sejalan dengan keinginan Indonesia.
"Kami tidak menerapkan apa-apa, kami siap untuk berdiskusi untuk menentukan skema transfer teknologi seperti apa yang optimal dalam rangka tawaran Rafale," kata Chabriol. 
Selain transfer teknologi, Chabriol mengatakan Indonesia akan memiliki independensi penuh jika memilih Rafale, hal ini karena Rafale adalah 100 persen buatan Prancis, Indonesia tidak perlu berurusan dengan pihak ketiga.
Keuntungan lain apabila membeli Rafale, ia menambahkan, adalah bahwa jet tempur Rafale dapat digunakan dengan dukungan logistik yang sangat minim.

Sumber: The Jakarta Post 

Marinir Indonesia – Amerika Berlatih di Pantai Lampon, Banyuwangi

Usai berlatih di Puslatpur Baluran, Karangtekok, Situbondo, prajurit  Taifib Korps Marinir TNI AL dan prajurit US MARSOC yang terlibat dalam latihan bersama Lantern Iron 15-5524 menggelar latihan di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Korps Marinir Lampon, Pesanggaran, Banyuwangi, Selasa (31/3/2015). Di Puslatpur Lampon yang merupakan tempat untuk menggembleng calon prajurit Intai Amfibi Korps Marinir tersebut, Marinir kedua Negara melaksanakan berbagai materi latihan diantaranya, renang rintis, pengintaian pantai lanjutan dan raid amfibi. Selain itu, juga akan berlatih tentang identifikasi serta tindakan terhadap bahan peledak, operasi perang kota, pertempuran jarak dekat, jungle and sea survival dan latihan berganda (full mission profile), heli water jump dan stabo. Mayor Marinir Freddy Ardianzah selaku Komandan Satgas Latihan didampingi Paopslat Kapten Marinir Aristoyuda mengatakan, latihan bersama Lantern Iron 15-5524 bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknik dan taktik prajurit Taifib serta menjalin kerjasama dengan prajurit US MARSOC dalam bidang militer. Dalam latihan tersebut, lanjutnya, juga melibatkan satu buah heli Bell 412 dari Skuadron 400 Wing Udara-1 Puspenerbal dengan pilot Lettu Laut (P) V. Oktomiawan dan Copilot Lettu Laut (P) Tri Yudha.

Sumber: TNI AL
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com